Rabu, 04 September 2013

Peranan Guru




A.    Guru Berkedudukan sebagai Profesional

            Dalam ilmu sosiologi kita bisa menemukan dua istilah yang akan selalu berkaitan, yakni status (kedudukan) dan peran sosial di dalam masyarakat. Status biasanya didefinisikan sebagai suatu peringkat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok atau posisi suatu kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lain. Sedangkan peran merupakan sebuah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki suatu status tertentu tersebut.
            Status sebagai guru dapat dipandang sebagai yang tinggi atau yang rendah, tergantung dimana ia berada. Sedangkan perannya yang berkedudukan sebagai pendidik seharusnya menunjukkan kelakuan yang layak sesuai harapan masyarakat, dan guru diharapkan berperan sebagai tauladan dan rujukan dalam masyarakat dan khususnya anak didik yng diajar. Guru tidak hanya memiliki satu peran saja, ia bisa berperan sebagai orang yag dewasa, sebagai seorang pengajar dan sebagai seorang pendidik, sebagai pemberi contoh dan sebagainya.

            Apabila kita cermati, sebenarnya status dan peran guru tidaklah selalu seragam dan bersifat konsisten sebagai mana tersirat di atas. Ini sesuai dengan standart apa dan mana yang dipakai dalam menentukan keduanya. Penilaian status dan peran pada seorang guru di pedesaan tidaklah sama dengan penilaian status dan peran terhadap seorang guru di perkotaan. Dalam masyarakat industrial dan materialis status dan peran seorang guru tidaklah se-urgen paa masyarakat sederhana atau masyarakat pertanian.

            Setelah itu salah satu peran guru adalah sebagai profesional. Jabatan guru sebagai profesional menuntut peningkatan kecepatan dan mutu keguruan secara berkesinambungan. Guru yang berkualifikasi profesional yaitu guru yang tahu secara dalam tentang apa yang diajarkannya, cakap dalam cara mengerjakannya secara efektif serta efisien, dan guru tersebut punya kepribadian yang mantap. Selain itu, integritas diri serta kecepatan keguruannya juga perlu ditumbuhkan serta dikembangkan.

            Setelah kita menganggap bahwa status guru merupakan sebuah jabatan yang profesional menurut Semana (1994), ia pun dituntut untuk bisa berperan dan menunjukkan citra guru yang ideal dalam masyarakatnya. Dalam hal ini J. Sudarminto, 1990 (dalam Semana,1994) berpendapat bahwa citra guru yang ideal adalah sadar dan tanggap akan perubahan zaman, pola tindak keguruannya tidak rutin, guru tersebut maju dalam penguasaan dasar keilmuan dan perangkat instrumentalnya (misalnya sistem berfikir, membaca keilmuan kecakapan problem solfing, seminar dan sejenisnya). Yang diperlukannya untuk belajar lebih lanjut atau berkesinambungan. Selain itu guru hendaknya bermoral tinggi dan beriman yang mendalam, seluruh tingkah lakunya (baik yang berhubungan dengan tugas keguruannya ataupun sisialitasnya sehari-hari digerakkan oleh nilai-nilai luhur dan taqwanya terhadap Tuhan Yang Maha Esa). Secara nyata guru tersebut harus bertindak jujur, disiplin, adil, setia, susila dan menghayati iman yang hidup.

            Guru juga harus memiliki kecepatan kerja yang baik dan kedewasaan berfikir yang tinggi sebab guru sebagai pemangku jabatannya yang profesional merupakan posisi yang bersifat strategis dalam kehidupan dan pembangunan masyarakat. Guru juga harus terus bisa memantapkan posisi dan perannya lewat usaha-usaha mengembangkan kemampuan diri secara maksimal dan berkesinambungan dalam belajar lebih lanjut. Salah satu yang melandasi pentingnya guru harus terus berusaha mengembangkan diri karena pendidikanberlangsung sepanjang hayat. Hal ini berlaku untuk diri guru dan siswa dimana usaha sesorang untuk mencapai perkembangan diri serta karyanya tidak pernah selesai (hasilnya tidak pernah mencapai taraf sempurna mutlak). Selain itu bahwa sistem pengajaran, materi pengajaran dan penyampaiannya kepada siswa selalu perlu dikembangkan. Hal ini merupakan dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Upaya pengembangan sistem pengajaran, pembenahan isi serta teknologi organisasi materi pengajaran dan pencarian pendekatan strategi, metode, teknik pengajaran (perkembangan diri siswa) selalu perlu dikaji dan atau dikembangkan demi efektivitas dan efisiensi kerja kependidikan.


B.     Peranan Guru Terhadap Anak Didik
            Peranan guru terhadap murid-muridnya merupakan peran vital dari sekian banyak peran yang harus ia jalani. Hal ini dikarenakan komunitas utama yang menjadi wilayah tugas guru adalah di dalam kelas untuk memberikan keteladanan, pengalaman serta ilmu pengetahuan kepada rnereka. Begitupun peranan guru atas murid-muridnya tadi bisa dibagi meniadi dua jenis menurut sittlasi interaksi sosial yang mereka hadapi, yakni situasi formal dalam proEes belajar mengajar di kelas dan dalarn situasi informal di luar kelas.

            Dalam situasi formal, seorang guru harus bisa menempatkan dirinya sebagai seorang yang mempunyai kewibawaan dan otoritas tinggi, guru harus bisa menguasai kelas dan bisa mengontrol anak didiknya. Hal ini sangat perlu guna menunjang keberhasilan dari tugas-tugas guru yang bersangkutan yakni mengajar dan mendidik murid-muridnya.  Hal-hal yang bersifat pemaksaan pun kadang perlu digunakan demi tujuan di atas. Misalkan pada saat guru menyampaikan materi belajar padahal waktu ujian sangat rnendesak, pada saat bersamaan ada seorang murid rarnai sendiri sehingga menganggu suasana belajar mengajar di kelas, maka guru yang bersangkutan memaksa anak tadi untuk diam sejenak sampai pelajaran selesai dengan cara-cara tertentu.

            Tentunya hal di atas juga harus disertai dengan adanya keteladanan dan kewibawaan yang tinggi pada seorang guru. Keteladanan sangatlah penting. Hal ini sejalan dengan teori "Mekanisme Belajar" yang disampaikan David O Sears (1989) bahwa ada tiga mekanisme umum yang terjadi dalam proses belajar anak. Yang pertama adalah asosiasi atau classical condotioning ini berdasarkan dari percobaan yang dilakukan Pavlov pada seekor anjing. Anjing tersebut belajar rnengeluarkan air liur pada saat bel berbunyi karena sebelumnya disajikan daging setiap saat terdengar bel. Setelah beberapa saat, anjing itu akan mengeluarkan air liur bila terdengar bunyi bel meskipun tidak disajikan daging, karena anjing tadi mengasosiasikan bel dengan daging. Kita juga belajar berperilaku dengan asosiasi. Misalnya, kata "Nazi"' biasanya diasosiasikan dengan kejahatan yang mengerikan. Kita belajar bahwa Nazi adalah jahat karena kita telah belajar mengasosiasikannya dengan hal yang mengerikan.

            Mekanisme belajar yang kedua adalah reinforcement, orang belajar menampilkan perilaku tertentu karena perilaku itu disertai dengan sesuatu yang menyenangkan dan dapat memuaskan kebutuhan (atau mereka belajar menghindari perilaku yang disertai akibat-akibat yang tidak menyenangkan). Seorang anak mungkin belajar membalas penghinaan yang diterirnanya di sekolah dengan mengajak berkelahi si pengejek karena ayahnya selalu memberikan pujian bila dia membela hak-haknya. Seorang mahasiswa juga mungkin belajar untuk tidak menentang sang profesor di kelas karena setiap kali dia melakukan hal itu, sang profesor selalu mengerutkan dahi, tampak marah dan membentaknya kembali.

            Mekanisme belajar utama yang ketiga adalah imitasi. Seringkali orang mempelajari sikap dan perilaku sosial dengan meniru sikap dan perilaku yang menjadi model. Seorang anak kecil dapat belajar bagaimana menyalakan perapian dengan meniru bagaimana ibunya melakukan hal itu. Anak-anak remaja mungkin menentukan sikap politik mereka dengan meniru pembicaraan orang tua mereka selama kampanye pemilihan umum. Imitasi ini bisa terjadi tanpa adanya reinforcement eksternal dan hanya melalui observasi biasa terhadap rnodel.

            Di antara ketiga macam mekanisme belajar di atas, imitasi adalah mekanisme yang paling kuat. Dalam banyak hal anak-anak cenderung meniru perilaku orang dewasa dan selain orang tua si anak, guru di sekolah merupakan orang dewasa terdekat kedua bagi mereka. Bahkan di zaman sekarang ini banyak terjadi kasus anak lebih mempunyai kepercayaan terhadap guru dibanding pada orang tua mereka sendiri. Maka dari itulah seorang guru harus bisa merurnjukkan sikap dan keteladanan yang baik dihadapan murid-muridnya biar dikemr.tdian hari tidak akan ada istilah ”guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

            Selain keteladanan, kewibawaan juga perlu. Dengan kewibawaan guru menegakkan disiplin demi kelancaran dan ketertiban proses belajar mengajar. Dalam pendidikan, kewibawaan merupakan syarat mutlak mendidik dan membimbing anak dalam perkembangannya ke arah tujuan pendidikan. Bimbingan atau pendidikan hanya mungkin bila ada kepatuhan dari pihak anak dan kepatuhan diperoleh bila pendidik mempunyai kewibawaan. Kewibawaan dan kepatuhan merupakan dua hal yang komplementer untuk menjamin adanya disiplin ($. Nasution, 1995).


C.    Peranan Guru Dalam Masyarakat
            Peranan guru dalam masyarakat tergantung pada gambaran masyarakat tentang kedudukan guru dan status sosialnya di masyarakat. Kedudukan sosial guru berbeda di negara satu dengan negara lain dan dari satu zaman ke zaman lain pula. Di negara-negara maju biasanya guru di tempatkan pada posisi sosial yang tinggi atas peranan-peranannya yang penting dalam proses mencerdaskan bangsa. Namun keadaan ini akan jarang kita temui di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

            Sebenarnya peranan itu juga tidak terlepas dari kualitas pribadi guru yang bersangkutan serta kompetensi rnereka dalam bekerja, Pada masyarakat yang paling menghargai guru pun akan sangat sulit untuk berperan banyak dan mendapatkan kedudukan sosial yang tinggi jika seorang guru tidak memiliki kecakapan dan kompetensi di bidangnya. Ia akan tersisih dari persaingan dengan guru-guru lainnya. Apalagi guru-guru yang tidak bisa memberikan keteladanan bagi para muridnya, sudah barang tentu ia justru menjadi bahan pembicaraan orang banyak. Jika dihadapan para muridnya seorang guru harus bisa menjadi teladan, ia pun dituntut hal yang sama di dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

            Penghargaan atas peranan guru di negara kita bisa dibedakan menjadi dua rnacam. Pertarna penghargaan sosial, yakni penghargaan atas jasa guru dalam masyarakat. Dilihat dari sikap-sikap sosial anggota masyarakat serta penempatan posisi guru dalam stratifikasi sosial masyarakat yang bersangkutan. Hal semacam ini akan tampak jelas kita amati pada mayarakat pedesaan yang mana mereka selalu menunjukkan rasa horrnat dan santun terhadap para guru yang rnenjadi pengajar bagi anak-anak rnereka. Mereka (masyarakat) lebih biasa memberi kata-kata sapaan santun terhadap guru seperti pak guru, mas guru dan sebagainya daripada profesi-profesi yang lain.

            Kedua adalah penghargaan ekonomis, yakni penghargaan atas peran guru dipandang dari seberapa besar gaji yang diterima oleh guru. Dengan kondisi gaji guru-guru di Indonesia sampai tahun 2000 an ini, tidak mungkin menjadi sejahtera dalam hal ekonomi hanya dengan pekerjaan mangajarnya saja. Hal inilah yang menjadikan kurang maksimalnya peranan guru dalam menjalankan tugas mengajar apalagi melakukan pengabdian pada masyarakat.

            Dalam perspektif perubahan sosial guru yang baik tidak saja harus mampu melaksanakan tugas profesionalnya di dalam kelas. namun harus pula berperan melaksanakan tugas-tugas pembelajaran di luar kelas atau di dalam masyarakat. Hal tersebut sesuai pula dengan kedudukan mereka sebagai agent of change yang berperan sebagai inovator, motivator dan fasilitator terhadap kemajuan serta pembaharuan.

            Di rnasyarakat, guru adalah sebagai pemimpin yang menjadi panutan atau teladan serta contoh (reference) bagi masyarakat sekitar. Mereka adalah pemegang norma dan nilai-nilai yang harus dijaga dan dilaksanakan. Ini dapat kita lihat bahwa betapa ucapan guru dalam masyarakat sangat berpengaruh terhadap orang lain. Ki Hajar Dewantoro menggambarkan peran guru sebagai stake holder atau tokoh panutan dengan ungkapan-ungkapan Ing Ngarso Sung Tutodho, Ing Madya Mangun Karso, Tutwuri Handayani.

            Di sini tampak jelas bahwa guru memang sebagai  ”pemeran aktif”, dalam keseluruhan aktivitas masyarakat secara holistik. Tentunya para guru harus bisa memposisikan dirinya sebagai agen yang benar-benar membangun, sebagai pelaku propaganda yang bijak dan menuju ke arah yang positif bagi perkembangan masyarakat.


D.    Peranan Guru terhadap Guru Lain
            Kalimat di atas rnengandung makna bahwa seorang guru harus  bisa berperan untuk kepentingan komunitasnya sendiri, yakni komunitas para guru. Sebagai sebuah profesi, biasanya bungan antar guru satu dengan guru yang lainnya diwadahi oleh organisasi yang menaungi dan mewadahi aspirasi mereka. Di negara kita organisasi yang menaungi para guru, misalnya : PGT (Persatuan Guru TK), PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) dan sebagainya. Lewat organisasi-organisasi ini para guru bisa saling berkomunikasi dan memperjuangkan kepentingan bersama mereka dengan semangat kebersamaan yang tinggi sehingga apa yang menjadi keinginan para guru relatif lebih mudah dicapai.

            Pertanyaaan yang mendasar sehubungan dengan jenis-jenis organisasi profesi keguruan tersebut adalah sejauh mana program serta kegiatannya menyentuh kebutuhan diri guruserta pengembangan karirnya?. Secara operasional seharusnya perjuangandan pembinaan yang dilakukan oleh organisasi profesi keguruan tersebut dapat mengangkat martabat guru yang menjadi anggotanya, memberi perlindungan hukum bagi guru, meningkatkan kesejahteraan hidup guru, memandu serta mengusahakan peluang untuk pengembangan karir guru, dan membantu ikut memecahkan konflik-konflik dan masalah-masalah yang dialami atau yang dihadapi oleh para guru.


Senin, 10 Juni 2013

Betapa Hatiku



BETAPA HATIKU


Intro : A  B  E  A  E

Verse :

         F#m   B

Betapa Hatiku

           E

Berterima Kasih Yesus

           F#m  B

Kau Mengasihiku

           E   A   E

Kau Memilikiku

Chorus :

           A             B

Hanya Ini Tuhan Persembahanku

           G#m               C#m

Segenap Hidupku, Jiwa Dan Ragaku

             F#m                   B

S’bab Tak Kumiliki Harta Kekayaan

               E                    Bm

Yang Cukup Berarti ‘Tuk ‘Ku Persembahkan

 E         A             B

Hanya Ini Tuhan Permohonanku

           G#m           C#m

Terimalah Tuhan Persembahanku

            F#m              B

Pakailah Hidupku Sebagai Alat-Mu

           E

Seumur Hidupku

Verse

Chorus

Interlude: A  B  G#m C#m


Kamis, 11 April 2013

Teknik Vokal



Teknik Vokal dan Ansambel Musik
A.     Teknik Vokal

VOKAL adalah alat musik yang paling murah sekaligus paling mahal didunia. Vokal dikatakan sebagai alat paling mahal didunia karena tidak ada perusahaan atau toko yang menjual alat musik ini. Oleh karena itu vokal harus dijaga, dilatih, dan dipelihara agar mampu mengeluarkan lantunan nada yang baik dan merdu.Musik vokal, artinya karya musik yang dilantunkan dengan vokal. Musik vokal lazim disebut seni menyanyi. Sebenarnya, seni vokal dapat berlaku bagi yang mendalami seluk beluk vokal seperti presenter, drama dan MC (master of ceremony).

TEKNIK VOKAL adalah Cara memproduksi suara yang baik dan benar, sehingga suara yang keluar terdengar jelas, indah, merdu, dan nyaring.
Kebiasaan-kebiasaan kurang baik dalam menyanyi sering dilakukan tanpa kita sadari. Misalnya saja, malas membuka mulut pada saat menyanyi padahal mulut adalah ruang resonansi paling sempurna untuk mengeluarkan vokal yang baik. Penggunaan power atau tenaga pada saat menyanyi tidak pernah optimal sehingga lagu yang dinyanyikan sering tidak memiliki makna dan tanpa penghayatan. Akibatnya kita tidak pernah sanggup untuk menyanyikan nada-nada tinggi, nada-nada yang dinyanyikan pun tidak pernah benar sehingga terdengar menjadi sumbang atau fals.Unsur-unsur dalam teknik vocal

 

1.      1. Pernapasan
2. Sikap badan
3. Artikulasi
4. Resonansi
5. Intonasi
6. Phrasering
7. Ekspresi
8. Penampilan
1. PERNAFASAN
adalah usaha untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian disimpan, dan dikeluarkan sedikit demi sedikit sesuai dengan keperluan.Pernapasan yang benar adalah pernapasan yang dilakukan dengan memanfaatkan alat-alat pernapasan secara tepat. Ada tiga macam teknik pernapasan yang dikenal, yaitu :- -- 

Pernapasan dada yaitu pernapasan yang diperoleh dengan cara menarik seluruh udara yang masuk ke dalam paru-paru dengan membusungkan dada. Pada pernapasan cara ini, rongga dada, bahu, dan otot-otot leher akan menjadi tegang. Karena itu, teknik pernapasan ini kurang baik digunakan untuk menyanyi.
- Pernapasan perut yaitu pernapasan yang diperoleh dengan cara mengembangkan rongga perut pada waktu bernapas. Pernapasan ini biasanya dipakai untuk memainkan alat-alat musik tiup yang ringan. Untuk menyanyi teknik pernapasan perut kurang mampu menghasilkan nada-nada tinggi.
- Pernapasan diafragma yaitu pernapasan pernapasan yang diperoleh dengan cara mengembangkan sekat rongga dada pada waktu menarik napas. Dengan cara ini udara yang dihimpun dalam paru-paru jauh lebih besar sementara fungsi alat-alat lain tidak terganggu.
Dari ketiga jenis pernafasan diatas, pernafasan diafragmalah yang paling baik digunakan pada waktu bernyanyi. Sebuah teknik sangat mendasar yang penting diperhatikan untuk bernyanyi secara rileks tetapi powerful, adalah dengan memfungsikan diafragma sebagai pusat produksi tenaga, yang sangat diperlukan dalam olah vokal.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada latihan pernapasan adalah
1. Tubuh harus benar-benar santai dan tidak tegang
2. Latihan bernapas boleh dikalukan sambil berdiri, duduk atau sambil berbaring
3. Pusatkan konsentrasi pada tarikan dan pengeluaran napas
4. Menarik napas harus selalu melalui hidung lalu mengeluarkannya melalui mulut secara perlahan-lahan
5. Perbandingan antara menarik napas, menahan, dan mengeluarkan napas berkisar antara 4:4:10. Artinya, 4 detik menarik napas, 4 detik manahan napas ( boleh lebih ), dan 10 detik mengeluarkannya ( boleh lebih )

Latihan pernafasan yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut
a. Berdiri dengan santai. Kaki terentang dengan jarak sekitar 15-20 cm. Pandangan lurus ke depan
b. Tarik napas dengan baik. Usahakan dalam 4 detik paru-paru telah terisi penuh.
c. Tahan selama 4 detik atau lebih lama lagi.
d. Keluarkan perlahan dengan mengeluarkan bunyi hhhmmm.., ssssss...., fffff....

2. SIKAP BADAN
Untuk dapat tampil menyanyi dengan baik, diperlukan sikap tubuh yang rileks namun penuh tenaga. Tubuh yang rileks adalah sikap yang baik dan benar. Secara fisik, sikap bernyanyi adalah seluruh bagian tubuh harus selalu dalam keadaan tidak kaku. Jadi sikap menyanyi yang baik adalah dengan sikap bebas dari semua ketegangan, konsentrasi untuk menyanyi dan harus pandai menguasai diri. Sikap tubuh yang lain adalah tidak kaku, tidak membungkuk tetapi jangan terlalu menengadah keatas. Posisi kaki kanan agak maju, supaya berat badan dapat berpindah-pindah dengan relaks.


3. MEMBENTUK SUARA YANG LENTUR
Untuk menghindari pita suara menjadi tegang dan kaku, maka setiap latihan menyanyi harus diawali dengan pemanasan yaitu latihan yang membantu pita suara menjadi luwes dan ringan. Karena menyanyi dengan keras akan menciptakan ketegangan pada pita suara, latihan di bawah ini sebaiknya dimulai dengan suara lembut.


4. ARTIKULASI
adalah cara pengucapan kata demi kata yang baik dan jelas. Hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pembukaan mulut yang benar pada saat kita mengucapkan vokal-vokal a,i,u,e dan o.
Latihan yang dapat dilakukan adalah membentuk mulut seolah-olah mengucapkan vokal-vokal A,U,E,I,O tanpa mengeluarkan bunyi. Untuk melatih perluasan nada ( ambitus ), pilihlah sebuah lagu sederhana dan nyanyikan lagu tersebut dengan secara bertahap menaikan nada dasarnya.


5. RESONANSI
Resonansi adalah fenomena yang ada sangkut pautnya dengan banyaknya rongga dalam tubuh manusia. Dalam hal menyanyi resonansi dapat diartikan usaha untuk memperindah suara dengan mefungsikan rongga-rongga udara yang turut bervibrasi/ bergetar disekitar mulut dan tenggorokan.


6. INTONASI
adalah tinggi rendahnya suatu nada yang harus dijangkau dengan tepat. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam intonasi yaitu: relaks, tidak tegang dalam menyanyi, tidak takut dalam menca-pai nada tinggi, percaya diri, Konsentrasi, tidak ragu-ragu dalam mengambil nada sehingga tinggi nada tidak turun.


7. PHRASERING
Phrasering adalah pemenggalan kalimat musik menjadi bagian-bagian yang lebih pendek, tetapi tetap mempunyai kesatuan arti. Tujuan phrasering adalah agar dapat memenggal kalimat musik lebih tepat sesuai dengan isi kalimat.


8. EKSPRESI
Adalah membawakan lagu dengan baik dari suatu ciptaan sesuai dengan jiwa lagu tersebut, misalnya sedih, gembira, semangat dan sebagainya.


9. PENAMPILAN
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penampilan, diantaranya yaitu make up dan kostum. Make up atau merias diri sangat diperlukan dalam suatu penampilan. Tujuannya adalah untuk mem-perindah atau mempercantik diri, tetapi tidak berlebihan, yang wajar saja. Penataan rambut juga perlu diperhatikan, disesuaikan dengan wajah. Untuk kostum atau busana harus memilih warna dan potongan yang serasi.


B.  PENYAJIAN MUSIK
Secara umum musik dapat disajikan dalam tiga bentuk, yaitu vokalia, instrumentalia, dan campuran vokal dan instrumen.
Penyajian vokalia adalah penyajian musik vokal tanpa iringan alat-alat musik. Biasanya berupa vokal khusus dan paduan suara.
Penyajian instrumentalia adalah penyajian musik dengan hanya menggunakan alat-alat musik sebagaimana dalam bentuk orkestrasi musik.
Penyajian vokal-instrumental adalah penyajian musik vokal yang diiringi dengan alat-alat musik.
Berdasarkan jumlah alat musik yang disajikan, pengelompokan penyajian musik dapat terdiri atas penyajian musik tunggal, duet, trio, kuartet, kuintet, sekstet, vokal group, dan orkestra.
1. Penyajian musik tunggal dinamakan solo atau sering disebut solist. Misalnya, solo vokal, solo piano, solo biola, solo gitar, dsb
2. Penyajian duet ( dua orang ), trio ( tiga orang ), kuartet ( empat prang ), kuintet ( lima orang ) dapat dilakukan dalam bentuk vokal, instrument atau vokal dan instrument
3. Penyajian dalam jumlah lebih dari enam orang biasanya dapat berupa vokal group baik dengan iringan alat atau tanpa alat musik.
4. Penyajian yang berjumlah lebih dari dua puluh orang dinamakan orkestrasi. Orkestrasi vokal sering  dinamakan dengan paduan suara atau choir ( choral atau koor ). Sedangkan orkestrasi instrumen terdiri atas :
- Orkes fanfare ( orkes yang disajikan adalah alat-alat musik tiup ditambah perkusi )
- Orkes harmoni ( orkes yang disajikan menggunakan alat musik tiup, alat musik gesek, dan perkusi )
- Orkes simfoni ( orkes yang disajikan dengan mengguanakn seluruh alat musik yang ada )
5. Jika yang ditampilkan adalah alat-alat musik gitar ditambah dengan alt musik perkusi maka dinamakan Band.

C. PADUAN SUARA DAN VOKAL GROUP

Paduan suara atau vokal adalah kelompok musik yang mengutamakan keindahan vokal manusia dalam pengungkapan ekspresinya.
Adapun jenis dan wilayah suara manusia tersebut dapat dibagi menjadi:
- Suara wanita, terdiri dari 3 suara : sopran (tinggi), mezzo sopran (sedang), alto (rendah)
- Suara pria, terdiri dari 3 suara : tenor (tinggi), baritone (sedang), bass (bass)
- Suara anak-anak, terdiri dari 2 suara : tinggi, rendah
Jenis kelompok paduan suara berdasarkan wilayah suara pada manusia :
1. Kelompok paduan suara sejenis wanita yang terdiri atas dua jenis suara. Komposisi kelompok penyanyi dalam paduan suara sejenis wanita biasanya SSA ( sopran, sopran dan alto atau sopran, mezzo sopran dan alto ).
2. Paduan suara sejenis pria dengan komposisi TTB ( tenor,tenor,bass ) atau TBB ( tenor,bariton,bass )
3. Paduan suara campuran untuk tiga suara yang biasanya berpola Sat ( sopran, alto,tenor ) atau SAB ( sopran, alto, bariton/bas )
4. Paduan suara lengkap berpola SATB


D. ANSAMBEL MUSIK

Ensambel adalah kelompok musik atau orkes kecil yang digolongkan ke dalam jenis musik kamar, yaitu jenis penyajian musik yang ditampilkan di dalam ruang tertutup dengan jumlah penikmat yang terbatas.
Ciri-ciri musik ensambel diantaranya
1. Jenis alat musik yang diaminkan terbatas. Misalnya alat-alat musik tiup saja, alat gesek saja, alat-alat musik petik saja, atau gabungan antara jenis alat musik
2. Dimainkan dalam ruang tertutup dengan jumlah penikmat terbatas
3. Dalam satu kelompok musik ensambel, pemainnya bermain secara tetap
4. Lagu-lagu atau komposisi yang dimainkan pada umumnya pendek, meskipun hal ini tidak mengikat.